Search :
Minggu, 05 September 2010

  Home
  Tentang Kami
  Berita
  Program Kerjasama
  Hutan Penelitian
  Hasil Penelitian
  Kelompok Peneliti
  Produk Unggulan
  Promosi
  F.A.Q
  RPI 2010 -2014
  Buku Tamu
  Kontak Kami

 
 
 
 
   

Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam memiliki beberapa produk unggulan yang siap dialihteknologikan kepada konsumen yang membutuhkan. Produk-produk ini merupakan hasil uji laboratorium selama bertahun-tahun dan telah diaplikasikan dalam industri bidang kehutanan. Adapun produk-produknya dapat dilihat pada uraian berikut.

1. Teknologi Biorehabilitasi Mikoriza untuk Mempercepat Keberhasilan Rehabilitasi Hutan dan Lahan Terdegradasi di Indonesia

Produk mikroba simbiotik dapat dikemas dalam berbagai bentuk produk, setelah berbagai jenis mikroba simbiotik efektif telah ditemukan untuk berbagai jenis tanaman hutan. Kemasan teknologi yang paling sederhana dan praktis untuk jenis cendawan ektomikoriza yang sporanya berlimpah adalah bentuk tablet spora. Selain itu ada kemasan lain yang cukup praktis yaitu organ cendawan spora, hifa adanya propagul lain dapat dikapsulkan dan dicampur dengan bahan dasar olahan rumput laut (alginat). Sedangkan untuk jenis cendawan mikoriza arbuskula (CMA) adalah dengan cara memperbanyaknya pada inang tanaman semusim selama 3 bulan dan selanjutnya spora yang telah hidup terbentuk pada sistem perakaran dapat dipanen dan dikemas dengan pembawa dari pasir atau batuan zeolit.

Lihat selengkapnya Lihat selengkapnya


2. Budidaya Gaharu & Rekayasa Produksinya

Meningkatnya perdagangan gaharu sejak tiga dasawarsa terakhir ini telah menimbulkan kelangkaan produksi gubal gaharu dari alam. Berdasarkan informasi, harga gaharu dengan kualitas Super di pasaran lokal Samarinda, Kalimantan Timur mencapai Rp.15.000.000,- s/d Rp.30.000.000,-, disusul kualitas Tanggung dengan harga rata-rata Rp.10.000.000,-, kualitas Kacangan dengan harga rata-rata Rp.7.500.000,-, kualitas Teri (Rp.5.000.000,- s/d Rp.7.500.000,-), kualitas Kemedangan (Rp.250.000,- s/d Rp.4.000.000,-) dan Suloan (Rp.25.000,-)

Akibat dari pola pemanenan yang berlebihan dan perdagangan gaharu yang masih mengandalkan pada alam tersebut, maka jenis-jenis tertentu misalnya Aquilaria dan Gyrinops saat ini sudah tergolong langka, dan masuk dalam lampiran Convention on International Trade on Endangered Species of Flora and Fauna (Appendix II CITES). Guna menghindari agar tumbuhan jenis gaharu di alam tidak punah dan pemanfaatannya dapat lestari maka perlu upaya konservasi, baik in-situ (dalam habitat) maupun ek-situ (di luar habitat) dan budidaya serta rekayasa untuk mempercepat produksi gaharu dengan teknologi induksi (inokulasi). Oleh karena itu maka pengembangan budidaya gaharu ke depan selain untuk konservasi juga sekaligus dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, pemerintah daerah dan devisa bagi negara.

Lihat selengkapnya Lihat selengkapnya


3. Perbanyakan Vegetatif Jenis-jenis Dipterokarpa dengan Sistem KOFFCO

Badan Litbang Kehutanan bekerjasama dengan Komatsu Ltd berhasil mengembangkan teknologi untuk mengontrol kondisi lingkungan (kelembaban, cahaya, dan temperatur) yang ideal untuk propagasi secara masal jenis-jenis meranti. Teknik yang telah dikembangkan untuk mengontrol kondisi lingkungan dinamakan KOFFCO system, akronim dari Komatsu – FORDA Fog Cooling system.

Sejak tahun 2004 alih teknologi sistem KOFFCO kepada sektor-sektor kehutanan telah dilaksanakan dengan dukungan dana dari JICA (Japan International Cooperation Agency).

Lihat selengkapnya Lihat selengkapnya


4. Penangkaran Lebah Ratu Apis cerana Secara Sederhana


Lebah ratu adalah betina sempurna yang berfungsi reproduksi dan jumlahnya hanya satu di setiap koloni lebah madu. Lebah ratu berperan menjaga kekompakan dan keharmonisan koloni. Peran ini diperoleh melalui daya kerja feromon yang dikeluarkan dari kelenjar di bagian mulutnya. Feromon tersebut berfungsi :
- Mencegah lebah pekerja membentuk calon ratu
- Menghambat berfungsinya organ reproduksi lebah pekerja
- Merangsang lebah jantan pada masa perkawinan
- Menandai ikatan kekeluargaan dalam koloni untuk membedakannya dari koloni lain.

Selama feromon ratu menguasai seluruh anggota koloni, maka keharmonisan koloni tetap terjaga. Apabila feromon ratu tidak lagi tercium atau dirasakan oleh seluruh atau sebagian anggota koloni, keharmonisan koloni akan terganggu dan pada akhirnya mendorong koloni untuk membentuk ratu baru. Kemampuan lebah ratu menguasai anggotanya tergantung dari produksi feromon yang dihasilkan. Semakin tua umur ratu, semakin menurun kemampuan produksi feromonnya.

Lihat selengkapnya Lihat selengkapnya

 

 
Visitor : Insurance
© Copyright 2009 - Allright Reserved