
Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam memiliki beberapa produk unggulan yang siap dialihteknologikan kepada konsumen yang membutuhkan. Produk-produk ini merupakan hasil uji laboratorium selama bertahun-tahun dan telah diaplikasikan dalam industri bidang kehutanan. Adapun produk-produknya dapat dilihat pada uraian berikut.
1. Teknologi Biorehabilitasi Mikoriza untuk Mempercepat Keberhasilan Rehabilitasi Hutan dan Lahan Terdegradasi di Indonesia
Produk mikroba simbiotik dapat dikemas
dalam berbagai bentuk produk, setelah berbagai
jenis mikroba simbiotik efektif telah ditemukan
untuk berbagai jenis tanaman hutan. Kemasan
teknologi yang paling sederhana dan praktis
untuk jenis cendawan ektomikoriza yang sporanya berlimpah adalah bentuk tablet spora. Selain itu
ada kemasan lain yang cukup praktis yaitu organ
cendawan spora, hifa adanya propagul lain dapat
dikapsulkan dan dicampur dengan bahan dasar
olahan rumput laut (alginat). Sedangkan untuk
jenis cendawan mikoriza arbuskula (CMA)
adalah dengan cara memperbanyaknya pada
inang tanaman semusim selama 3 bulan dan
selanjutnya spora yang telah hidup terbentuk
pada sistem perakaran dapat dipanen dan dikemas
dengan pembawa dari pasir atau batuan zeolit.
Lihat selengkapnya
2. Budidaya Gaharu & Rekayasa Produksinya
Meningkatnya perdagangan gaharu sejak tiga dasawarsa terakhir ini telah menimbulkan kelangkaan produksi gubal gaharu dari alam. Berdasarkan informasi, harga gaharu dengan kualitas Super di pasaran lokal Samarinda, Kalimantan Timur mencapai Rp.15.000.000,- s/d Rp.30.000.000,-, disusul kualitas Tanggung dengan harga rata-rata Rp.10.000.000,-, kualitas Kacangan dengan harga rata-rata Rp.7.500.000,-, kualitas Teri (Rp.5.000.000,- s/d Rp.7.500.000,-), kualitas Kemedangan (Rp.250.000,- s/d Rp.4.000.000,-) dan Suloan (Rp.25.000,-)
Akibat dari pola pemanenan yang berlebihan dan perdagangan gaharu yang masih mengandalkan pada alam tersebut, maka jenis-jenis tertentu misalnya Aquilaria dan Gyrinops saat ini sudah tergolong langka, dan masuk dalam lampiran Convention on International Trade on Endangered Species of Flora and Fauna (Appendix II CITES). Guna menghindari agar tumbuhan jenis gaharu di alam tidak punah dan pemanfaatannya dapat lestari maka perlu upaya konservasi, baik in-situ (dalam habitat) maupun ek-situ (di luar habitat) dan budidaya serta rekayasa untuk mempercepat produksi gaharu dengan teknologi induksi (inokulasi). Oleh karena itu maka pengembangan budidaya gaharu ke depan selain untuk konservasi juga sekaligus dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, pemerintah daerah dan devisa bagi negara.
Lihat selengkapnya
3. Perbanyakan Vegetatif Jenis-jenis Dipterokarpa dengan Sistem KOFFCO
Badan Litbang Kehutanan bekerjasama dengan Komatsu Ltd berhasil mengembangkan teknologi untuk mengontrol kondisi lingkungan (kelembaban, cahaya, dan temperatur) yang ideal untuk propagasi secara masal jenis-jenis meranti. Teknik yang telah dikembangkan untuk mengontrol kondisi lingkungan dinamakan KOFFCO system, akronim dari Komatsu – FORDA Fog Cooling system.
Sejak tahun 2004 alih teknologi sistem KOFFCO kepada sektor-sektor kehutanan telah dilaksanakan
dengan dukungan dana dari JICA (Japan International
Cooperation Agency).
Lihat selengkapnya
4. Penangkaran Lebah Ratu Apis cerana Secara Sederhana
Lebah ratu adalah betina sempurna yang berfungsi
reproduksi dan jumlahnya hanya satu di setiap
koloni lebah madu.
Lebah ratu berperan menjaga kekompakan dan
keharmonisan koloni. Peran ini diperoleh melalui
daya kerja feromon yang dikeluarkan dari kelenjar
di bagian mulutnya. Feromon tersebut berfungsi :
- Mencegah lebah pekerja membentuk calon ratu
- Menghambat berfungsinya organ reproduksi lebah
pekerja
- Merangsang lebah jantan pada masa perkawinan
- Menandai ikatan kekeluargaan dalam koloni untuk
membedakannya dari koloni lain.
Selama feromon ratu menguasai seluruh anggota
koloni, maka keharmonisan koloni tetap terjaga.
Apabila feromon ratu tidak lagi tercium atau
dirasakan oleh seluruh atau sebagian anggota koloni,
keharmonisan koloni akan terganggu dan pada
akhirnya mendorong koloni untuk membentuk
ratu baru.
Kemampuan lebah ratu menguasai anggotanya
tergantung dari produksi feromon yang dihasilkan.
Semakin tua umur ratu, semakin menurun kemampuan
produksi feromonnya.
Lihat selengkapnya |
|