Search :
Minggu, 05 September 2010

  Home
  Tentang Kami
  Berita
  Program Kerjasama
  Hutan Penelitian
  Hasil Penelitian
  Kelompok Peneliti
  Produk Unggulan
  Promosi
  F.A.Q
  RPI 2010 -2014
  Buku Tamu
  Kontak Kami

 
 
 
 
 
A. Penanaman Sebagai Cikal Bakal Hutan Penelitian
B. Potensi dan Kondisi Ekologi Hutan Penelitian P3H&KA
C. Hutan Penelitian Sebagai Awal Konservasi Alam
D. Pengembangan Hutan Penelitian
E. Gambaran Umum Hutan Penelitian Lingkup P3H&KA
  1. Hutan Penelitian Carita
  2. Hutan Penelitian Dramaga
  3. Hutan Penelitian Cikole
  4. Hutan Penelitian Arcamanik
  5. Hutan Penelitian Pasirhantap
  6. Hutan Penelitian Yanlapa
  7. Hutan Penelitian Pasirawi

Sejak tahun 1937,  Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Kon-servasi Alam (P3H&KA), yang dahulu bernama Balai Penyelidikan Ke-hutanan, telah membangun Hutan Penelitian (HP) di 14 lokasi yang berbeda, di mana 10 Hutan Penelitian berada di wilayah Banten dan Jawa Barat de-ngan berbagai kondisi lingkungan yang berbeda.  Hutan Penelitian tersebut pada awalnya diperuntukkan sebagai tempat introduksi jenis pohon hutan (khususnya Dipterokarpa).  Jenis-jenis tersebut selalu dievaluasi pertumbuh-annya secara berkala dan sudah beraklimatisasi.

Sejarah singkat tentang introduksi Dipterokarpa di Jawa Barat dan Banten, pertama kali dilakukan oleh Bousbow Proefstation dengan menanam Sho-rea leprosula di Pasirhantap tahun 1938 dan 1939. Selanjutnya pada tahun yang sama dilakukan penanaman di Cigerendeng, Ciamis dengan jenis S. Ovalis, Hopea sangal, H. bancana dan H. mengarawan. 

Berdasarkan saran Hellinga dengan memperhatikan kondisi, iklim dan tanah, serta hasil pengamatan H. J. Te. Riele pada tahun 1940, maka dibangun te-gakan Dipterokarpa di Haurbentes (Jasinga, Bogor) seluas 40 hektar de-ngan tujuan mengintroduksi jenis-jenis Dipterokarpa yang bisa dikembang-kan di Pulau Jawa. Pada saat itu, juga ditanam 7 jenis Shorea penghasil tengkawang, seperti S. leprosula dan Dipterocarpus tempehes. Dari tahun 1940 s/d 1949 terjadi perubahan pemerintahan (masuknya Jepang dan ke-merdekaan Indonesia tahun 1945), sehingga tidak ada kegiatan penanam-an/introduksi.  Baru pada tahun 1950 hingga 1985, dilakukan penambahan jenis oleh Ardikusumah, di antaranya S. selanica (1950), S. chrysophylla (1950), S. ovalis (1969), S. guiso (1951), S. stenoptera forma Ard (1953) dan S. leptoclados (1986).

Demikian pula pada Hutan Penelitian (HP) Carita di Banten, HP Yanlappa dan HP Darmaga, Bogor, sejak tahun 1956 telah ditanam jenis S. leprosula,  S. pinanga, serta H. odorata.  Selama kurang lebih 60 tahun, tegakan Dip-terokarpa di hutan-hutan penelitian tersebut telah menjadi pohon raksasa, sumber penghasil biji dan anakan alam, serta kegiatan penelitian dari dalam dan luar negeri.  Hal yang demikian tentunya dapat menjadi bahan rujukan untuk mewujudkan pembangunan hutan lestari.

Penanaman yang dilakukan dalam rangka penelitian di hutan penelitian  tercatat 3 jenis yaitu S. Selanica, S. leprosula dan S. mecistopteryx  tahun 1993. Penelitian tersebut dimaksudkan untuk mengkaji jarak tanam seluas 6 hektar (A. Syaffari, dkk), tahun 2002 penelitian lebar jalur tanam untuk jenis penghasil tengkawang (S. stenoptera dan S. mecistopteryx  seluas 5 hektar), ditambah jenis S. seminis, S. pinanga dan S. palembanica seluas 2 ha yang ditanam tahun 2004 (Nina Mindawati, dkk). Pada tahun 2003 (A. Syaffari, dkk) mengintroduksi S. johorensis asal Tarakan, Kalimantan Timur dengan teknik penanaman dalam jalur dan cemplongan seluas 1 ha di HP Haur-bentes.

Kerjasama antara P3H&KA dengan Komatsu Ltd. mengembangkan sistem perbanyakan bibit dengan nama KOFFCO, yaitu pembiakan vegetatif dari stek pucuk jenis-jenis Dipterokarpa dengan mengatur intensitas cahaya ma-tahari, kelembaban dan suhu. Hasil perbanyakan tersebut ditanam antara lain di Gunung Dahu, BKPH Leuwiliang, Bogor seluas 160 ha. Tujuan dila-kukan penanaman tersebut adalah untuk menguji pengaruh jarak tanam pa-da S. leprosula, S. selanica dan S. platyclados.

Pada tahun 1998, Nina Mindawati dan kawan-kawan melakukan penanam-an dengan sistem tumpangsari antara S. platyclados sebagai tanaman po-kok berjarak 2 m x 3 m dan sayur-sayuran sebagai tanaman pengisi di HP. Cikole dengan ketinggian > 1.600 m dpl. Setelah tiga tahun  persen tumbuh S. platyclados  ternyata cukup tinggi yaitu 70% sedangkan tajuknya sudah saling bersentuhan. Penanaman S. platyclados tersebut merupakan bagian dari uji multi jenis (penanaman campuran 7 jenis pohon hutan dalam sistem petak) seluas 8 hektar.

Pada tahun 2000, A. Syaffari dan kawan-kawan juga menanam secara cam-puran antara S. selanica, Khaya anthotheca dan Swietenia mahogani de-ngan sistem blok dan petak berukuran 0,1 ha dan 0,25 ha dengan jarak ta-nam    2 m x 3 m di RPH Cigeulis, BKPH Sobang, KPH Banten seluas 30 ha, untuk menguji pertumbuhan dan kesehatan tanaman.

Saat ini jumlah hutan penelitian yang dikelola oleh P3HKA sebanyak 9 buah yaitu HP Dramaga, HP Haurbentes, HP Carita, HP Yanlapa, HP Pasirawi, HP Pasirhantap, HP Cikampek, HP Cikole dan HP Arcamanik.

 
Visitor : Insurance
© Copyright 2009 - Allright Reserved